Manusia tidak Lepas dari Lobang
Istilah “lubang” jangan dikira di luar eksistensi manusia. Justru manusia eksis karena “lubang”. Bahkan ia menjadi mitra manusia di hampir semua aspek kehidupan ini. Bahkan kehebatan manusia justru konon, bisa mengenal lubang itu sendiri. Sebaliknya, kesengsaraan manusia karena tidak mengenal lubangnya.
Tidak percaya, lihatlah saat kita lahir, bukankah kita berasal dari sebuah lubang yang terawat dan untouchtable bagi orang yang tidak memiliki akses ke sana. Bahkan keajaiban lubang ini, mampu menandingi sulap sekelas David Copperfield. Bayangkan diameter yang semula tidak mungkin mengeluarkan individu baru, tiba-tiba terbelah dan terbuka lebar dalam keadaan yang menegangkan. Semua orang pun, merasa was-was dengan sesuatu yang keluar dari lubang ini. Namun merasa bahagia jika sudah berhasil keluar dari lubang.
Pada perjalanan berikutnya, anehnya manusia yang berlubang itu mencari keseimbangan justeru dengan individu lain yang tidak berlubang. Bahkan menjadi daya tarik dan mampu menghasilkan karya-karya sastra. Konsekwensinya banyak sekali dunia ini ramai. Hingga philosof mendasari bahwa hidup tidak bisa lepas dari urusan lubang itu. Bahkan ukuran bahagia dan tidak, dikonotasikan pada urusan lubang.
Kejar mengejar karir, politik, ekonomi, sosial dan lain-lain. Bahkan ada yang melalui hantam sana hantam sini, tidak terlepas demi untuk membahagiakan eksistensi lubang. Adapula yang kelebihan harta, hingga membutuhakn lubang lebih dari satu. Ada yang melalui cara legal ada pula yang ilegal. bahkan konon dalam kehidupan manusia, lubang ilegal itu bisa bebas didapat di mana saja, asal melalui sebuah trik dan biaya yang tidak besar. Dari sini kemudian lahirlah bisnis lubang yang banyak bertebaran dari mulai hotel berbintang selaksa hingga di emperan rumah bedeng. Anehnya, semuanya mengaku sama, saat menikmati lubang itu sendiri, baik yang berkantong tebal maupun tipis.
Tapi konon bagi yang punya buku putih, lubang itu bukan sembarangan. Karena dianggap itu merupakan cita-cita suci maka rawatlah lubang itu biartetap suci. Adanya penyakit yang mengancam generasi manusia diakibatkan salah satunya karena persoalan lubang yang tidak didasari oleh juklak pada buku putih. Sehingga banyak yang berpandangan : satu lobang rame-rame.
Tapi bagaimanapun juga perjalanan manusia dari awal berasal dari lubang, maka akhirnyapun ia akan menemui lubang pula. Menurut catatan “buku putih”, di saat manusia menghahiri hidupnya, ia pun akan pergi menuju lubang. Lubang ini pun tidak seberapa luasnya. Hanya 2 x 1 m. Orang semua hawatir akan selamat atau tidak di lubang ini…
Loading...
Wadow, lubang yang mengenakkan itu ya. memang benar hampir orang berantem dan mengejar uang demi lubang itu… hahaha lucu artikel ini
wongtua - Oktober 30, 2007 at 10:20 am
Lubang lagi lubang lagi…
Bosen deh…
Capek deh… ^_^
Iwan Rystiono - Oktober 30, 2007 at 7:59 pm